Selamat datang di Sibooky — Perpustakaan Digital

Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi

Penulis

Penerbit

Self Published

Bahasa

Indonesia

Dilihat

1,918 kali

Ditambahkan

11 Apr 2022

Kategori

Sinopsis

Saat buku ini terbit, baik tokoh yang dibicarakan maupun pengarangnya, telah
meninggal. Amir Sjarifuddin meninggal tahun 1948, menyusul Peristiwa Madiun
yang melibat dirinya. Ia meninggal dalam arus revolusi yang bergerak begitu cepat, melebihi kemampuan tiap-tiap orang untuk menangkap apalagi mengarahkannya.
Seperti ditulis Abu Hanifah ketika menutup tulisannya tentang tokoh ini dalam majalah
Prisma, "Revolusi memakan anaknya sendiri". Jejak langkah Amir Sjarifuddin sudah berulangkali berusaha ditulis orang, tapi selalu saja terasa kekurangannya di sana-sini. Menulis tentang tokoh kontroversial seperti
Amir memang bukan barang mudah. Mengambil satu aspek saja dari dirinya berarti melupakan aspek lain. Melihatnya sebagai seorang Kristen yang taat saja, dan menelusuri seluruh perjalanannya dari perspektif ini, akan membuat kita kedodoran memahami sikap politiknya yang radikal sebagai "anak revolusi". Di pihak lain, melihatnya hanya sebagai politisi radikal, pemimpin Partai Sosialis (dengan segala kekeliruan dan kekacauan tentang paham dan partai ini di zaman sekarang), juga tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi mengingat perjalanan politiknya tidak hanya dituntun oleh pikiran, tapi lebih oleh pergolakan dalam masyarakat sezaman.
Mungkin paling baik jika kita menempatkannya kembali dalam zamannya;
membiarkan dirinya tampil melalui pikiran dan tindakannya dalam sejarah.

Ulasan Pembaca

Masuk untuk memberikan ulasan dan rating.

Masuk & Tulis Ulasan

Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama!